Meditasi Dapat Bantu Masalah Kewanitaan !

Sebuah penelitian terbaru mengatakan bahwa teknik meditasi yang mudah dipelajari dapat membantu mengurangi hot flash, keringat malam, dan insomnia di masa menopause yang terjadi pada kaum wanita.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Universitas Massachusetts, Amerika Serikat tersebut menunjukkan bahwa pelatihan kesadaran penuh (perhatian murni), yang berdasarkan pada konsep meditasi Buddhis, dapat mengurangi permasalahan yang berkaitan dengan hot flash dan dapat meningkatkan fungsi fisik, psikososial dan seksual.

Seperti yang dilansir oleh HealthDay News pada edisi bulan Juni 2011, James Carmody, salah seorang peneliti dalam studi tersebut dan sebagai seorang profesor kolega kedokteran di divisi pencegahan dan pengobatan perilaku, mengatakan, "temuan ini penting karena terapi penggantian hormon, yang digunakan untuk mengobati gejala menopause di masa lalu, berkaitan dengan risiko-risiko kesehatan."

Para peneliti mencatat bahwa sekitar 40 persen wanita menopause menderita hot flash (rasa gerah) dan keringat malam yang merusak kualitas hidup mereka. Namun sejak terapi penggantian hormon berkaitan dengan sebuah peningkatan risiko terhadap penyakit jantung, kanker payudara dan stroke, Carmody mengamati bahwa "tidak hanya para wanita yang mencari pengobatan alternatif, Institusi Kesehatan Nasional pun memprioritaskan untuk menemukan pengobatan perilaku tersebut."

Menurut penelitian tersebut, tidak ada pengobatan lain yang telah ditemukan untuk menggantikan terapi hormon, tetapi pelatihan kesadaran penuh nampaknya memungkinkan para wanita untuk dapat "mengurangi reaktif" terhadap gejala-gejala menopause.

Terapi kesadaran penuh membantu untuk fokus pada saat sekarang. Para praktisi menghindari untuk membuat penilaian dan hanya menerima apa saja yang melewati pikiran mereka saat berfokus pada tiap napas. Teknik ini tidaklah sukar untuk dipelajari, tetapi membutuhkan disiplin pada permulaannya, demikian kata para pakar.

Para peneliti bertujuan untuk mempengaruhi reaksi para wanita terhadap gejala-gejala mereka, "termasuk tekanan psikologis, rasa malu sosial, dan kecemasan."

"Kami ingin melihat jika kami bisa mempengaruhi daya tahan kaum wanita dalam merespon gejala-gejala tersebut," jelas Carmody. 'Kami tidak berusaha untuk mempengaruhi gejala-gejala itu sendiri, meskipun terdapat juga beberapa dampak terhadap gejala-gejala tersebut."

Penelitian tersebut memilah 110 wanita antara usia 47 dan 69 tahun menjadi dua kelompok, kelompok pertama menerima pelatihan, sedangkan yang lain menunggu untuk mempelajari teknik tersebut.

Para peserta mengisi kuesioner untuk menentukan faktor-faktor yang diketahui dapat mempengaruhi hot flash, seperti penggunaan alkohol, yoga, dan olahraga.

Para peneliti juga mengukur empat dimensi kualitas hidup: fungsi fisik, psikososial, vasomotorik (hot flash), dan seksual. Para wanita tersebut menilai seberapa banyakkah mereka terganggu oleh gejala-gejala dalam empat poin skala mulai dari "sama sekali tidak terganggu" sampai "sangat terganggu". Mereka terus mencatat secara harian jumlah dan intensitas hot flash dan keringat malam. Rata-rata, para wanita tersebut mengalami lima atau lebih dari tingkat menengah sampai parah hot flash ataupun keringat malam dalam sehari saat penelitian tersebut dimulai.

Setelah mengambil kelas meditasi sekali seminggu selama delapan minggu, dan pelatihan satu hari penuh, kelompok wanita yang berlatih mengalami penurunan tingkat gangguan dari gejala-gejala yang mereka alami sebanyak rata-rata 15 persen sedangkan 7 persen untuk kelompok kontrol. Meskipun intensitas hot flash tidak berbeda secara signifikan, kelompok pelatihan dilaporkan mengalami tidur yang lebih baik, dan berkurangnya rasa cemas dan rasa stres.

Pada awal penelitian, yang dimulai dari November 2005 sampai September 2007, para peserta memiliki pemasalahan tidur yang signifikan secara klinis. Peningkatan tidur merupakan sebuah hasil yang penting yang ditemukan dari penelitian tersebut.

"Hal yang sangat mengejutkan kami adalah dampaknya pada tidur," kata Carmody, yang mencatat bahwa pelatihan meditasi kesadaran penuh ternyata memiliki efek yang sama dengan terapi penggantian hormon dalam hal mengurangi insomnia (sulit tidur).

Pakar lainnya memuji penelitian tersebut yang menggunakan "koneksi pikiran-tubuh" untuk membantu para wanita dengan gejala-gejala menopause serius dengan "tanpa efek samping".

Meskipun demikian, dengan mempertimbangkan bahwa objek dalam penelitian tersebut hanya sebatas pada wanita kulit putih dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, maka penelitian ini perlu dikaji lebih lanjut untuk melihat apakah hasilnya dapat diterapkan untuk masyarakat umum.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris